Sejarah Desa

Perjalanan sejarah dan perkembangan Desa Toundanouw dari masa ke masa

Momen Penting

Highlight
1996Pendirian Desa

Sejarah Desa Toundanouw, Kecamatan Touluaan, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara

Sebelum abad ke-17, para leluhur dari marga Mamosey dan Kaamboyan yang berasal dari Luaan dan Wewelan menjelajahi hutan hingga menemukan sebuah danau bernama Danau Toundanow. Di tengah danau itu membentang sebuah gugusan pegunungan yang memisahkan wilayah perairan bagian timur dan barat. Pegunungan tersebut kemudian dikenal sebagai Pegunungan Abur, Bitangal, Dungus, Batu, Beletuang, Powo’d, Loloan, Pakey, dan Liahayu. Seiring bertambahnya generasi, kawasan pegunungan itu berkembang menjadi pemukiman leluhur. Dari pemukiman inilah lahir tokoh penting bernama Lumampow dan seorang putri jelita bernama Leno, hingga kemudian lahir seorang wanita bernama Oki yang juga memiliki kecantikan dan kharisma. Oki tumbuh dewasa dan dipercaya sebagai pewaris untuk memimpin wilayah tersebut. Ia kemudian dinobatkan sebagai pemimpin Kerajaan Toundanouw—yang juga dikenal sebagai Kerajaan Malesung. Pada masa kepemimpinannya, dibangun benteng pertahanan di bagian timur dan barat pegunungan. Benteng ini sekaligus menjadi jalur perlintasan dari perairan utara ke selatan. Proses penggalian jalur tersebut dilakukan oleh para leluhur sebagai bentuk pertahanan dari ancaman musuh kerajaan. Lokasi benteng di bagian timur kini berada di wilayah Desa Kali, yang saat ini menjadi jalur darat, sementara bagian barat dikenal sebagai Kelewonan. Penggalian benteng ini dinamakan Kinali atau BeToundanouw, yang berarti “digali”. Setelah pekerjaan besar ini selesai, Kerajaan Toundanouw merasa bahwa pemukiman telah aman dari gangguan luar. Kawasan pemukiman yang terbentang di tengah Danau Toundanow kemudian disebut Lumebulebu, yang merujuk pada keindahan panoramanya karena berada di tengah danau layaknya sebuah pulau. Seiring berjalannya waktu, para leluhur mengadakan pertemuan adat yang disebut Mahohuta, yaitu sebuah sidang untuk menetapkan rencana besar dalam mengelola wilayah perairan Danau Toundanouw. Di bawah kepemimpinan leluhur Nawo bernama Moharauw, disusun gagasan untuk mengeringkan danau dengan cara membuat kanal atau terusan air. Kanal tersebut direncanakan di bagian timur dan barat danau—yang kini merupakan wilayah Desa Kuyanga di sebelah timur, dan Desa Toundanouw di sebelah barat. Tempat penggalian itu disebut Pinesangan, artinya “digali” atau “diterobos” menggunakan tenaga air. Dalam proses ini, Moharauw didampingi oleh leluhur Lelemboto. Hasil dari pengeringan dan pembuatan terusan tersebut adalah terbentuknya sejumlah danau kecil. Bukti peninggalan itu antara lain Danau Bulilin, dari kata Toundanouw Buliwulilinah Ke Mange I Nahe, yang berarti “sisa air danau yang dikeringkan”. Selain itu terdapat Danau Kawelaan yang menunjukkan proses pengeringan alami, serta Sinduh Hiluah yang dahulu merupakan teluk danau dan kini menjadi kawasan perkebunan masyarakat. Setelah danau mulai mengering, para leluhur yang tinggal di pegunungan Abur sepakat untuk turun ke dataran rendah dan membentuk permukiman baru. Mereka yang bermukim di Pegunungan Pakey turun ke kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Kali. Penghuni Pegunungan Batu dan Dungus berpindah ke wilayah yang kini menjadi Desa Tombatu dan Kuyanga. Mereka yang berasal dari Powo’d, Loloan, dan Liahayu menetap di dataran yang kini menjadi Desa Silian. Sementara itu, masyarakat dari Pegunungan Bitangal turun ke dataran barat mulai dari Totona, Baleynihan, hingga Aolas—daerah yang kini dikenal sebagai Desa Toundanouw. Nama “Toundanouw” sendiri berasal dari kata Belo’bug atau Lumebulebu. Belo’bug berarti suatu lokasi tempat dilaksanakannya upacara ritual budaya Toundanouw agar terhindar dari gangguan, ancaman, wabah penyakit, maupun serangan musuh. Sementara Lumebulebu menggambarkan kawasan yang terpisah secara alami, memiliki panorama indah, dan tampak tiada duanya. Pada tahun 1994 bulan Oktober Desa Toundanouw menjadi desa persiapan setelah melalui berbagai rapat-rapat. Pada saat menjadi desa Persiapan, desa Toundanouw dipimpin oleh bapak Yan Pitani selaku Hukum Tua. Pada tahun 1996 bulan Oktober pula Desa Toundanouw menjadi Desa Definitif. Kemudian, pada tahun 1998 bulan Juli diadakan pemilihan hukum tua dengan kandidat calon hukum tua: 1. Yan Pitani 2. Yan Awidona 3. Aneke Lendombela – Poluan Dari hasil pemilihan hukum tua tersebut, terpilihlah bapak Yan Pitani sebagai hukum tua periode 1998 – 2007. Kemudian pada tahun 2007, diadakan pemilihan hukum tua dengan kandidat calon hukum tua: 1. Yan Pitani 2. Martheen Pelealu 3. Andries E. Tampongangoy 4. Horman R. Pelealu 5. Otto Mamahit Dari hasil pemilihan hukum tua selanjutnya, terpilihlah bapak Martheen Pelealu sebagai hukum tua periode 2007 – 2013, kemudian pada Juli 2013 – Juli 2014 yang menjadi penjabat hukum tua yaitu bapak Rudy Oth Liwan. Selanjutnya, pada tahun 2014 diadakan pemilihan hukum tua dengan kandidat calon bapak Rudy Oth Liwan dan Martheen Pelealu. Dari hasil pemilihan hukum tua, terpilihlah bapak Martheen Pelealu sebagai hukum tua periode 2014 – 2021. Dan akhirnya, pada Juni 2021 yang menjadi penjabat hukum tua yaitu bapak Jonly G. Tampongangoy sampai sekarang. Sebelum adanya pemekaran, dahulu desa ini merupakan desa Ranoketang, Kecamatan Tombatu, Kabupaten Minahasa. Kemudian, dilakukan pemekaran pada tahun 1994 menjadi desa Toundanouw, Kecamatan Touluaan, Kabupaten Minahasa Tenggara. Pada tahun 2002 dilakukan pemekaran kembali dan menghasilkan nama desa yaitu desa Toundanouw Satu, kemudian pada tahun 2010 dilakukan kembali pemekaran yang menghasilkan desa baru yaitu desa Toundanouw Atas. Alasan pemekaran yaitu karena desanya besar sedangkan dana desa yang diberikan oleh pemerintah terbilang kecil untuk ukuran desa dengan penduduk yang banyak. Setelah melakukan pemekaran beberapa kali, terbentuklah 3 (tiga) desa baru, yaitu Desa Toundanouw (Induk), Desa Toundanouw Satu dan Desa Toundanouw Atas. Masyarakat desa ini merupakan suku/etnis Tonsawang dengan bahasa Toundanouw. Pekerjaan masyarakat yaitu bertani, berkebun (cabai,padi,jagung,kacang-kacangan), beternak ayam dan babi (rumahan) dan membuat captikus dengan menggunakan alat penyulingan yaitu bambu. Masyarakat desa Toundanouw 100% beragama Kristen Protestan dengan memiliki 5 (lima) Gereja yaitu Gereja GMIM, KGBI, GPDI, GKI dan ADVENT. Desa ini juga memiliki 4 organisasi yaitu Mapalus (Maandou), arisan membangun rumah, arisan keuangan dan arisan rukun keluarga. Desa ini memiliki 1 sekolah yaitu SD GMIM Ranoketang Atas – Toundanouw, 1 puskesmas inap, sungai (mamaya, melebu dan sungai tanahi), alat musik tradisional yaitu suling. Dahulu masyarakat menggunakan sepeda sebagai alat transportasi untuk berhubungan dan terhubung dengan desa/wilayah lain. Dan sekarang masyarakat menggunakan kendaraan Damri sebagai transportasi ke desa/wilayah lain.

Linimasa Sejarah

1996Pendirian DesaPenting

Sejarah Desa Toundanouw, Kecamatan Touluaan, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara

Sebelum abad ke-17, para leluhur dari marga Mamosey dan Kaamboyan yang berasal dari Luaan dan Wewelan menjelajahi hutan hingga menemukan sebuah danau bernama Danau Toundanow. Di tengah danau itu membentang sebuah gugusan pegunungan yang memisahkan wilayah perairan bagian timur dan barat. Pegunungan tersebut kemudian dikenal sebagai Pegunungan Abur, Bitangal, Dungus, Batu, Beletuang, Powo’d, Loloan, Pakey, dan Liahayu. Seiring bertambahnya generasi, kawasan pegunungan itu berkembang menjadi pemukiman leluhur. Dari pemukiman inilah lahir tokoh penting bernama Lumampow dan seorang putri jelita bernama Leno, hingga kemudian lahir seorang wanita bernama Oki yang juga memiliki kecantikan dan kharisma. Oki tumbuh dewasa dan dipercaya sebagai pewaris untuk memimpin wilayah tersebut. Ia kemudian dinobatkan sebagai pemimpin Kerajaan Toundanouw—yang juga dikenal sebagai Kerajaan Malesung. Pada masa kepemimpinannya, dibangun benteng pertahanan di bagian timur dan barat pegunungan. Benteng ini sekaligus menjadi jalur perlintasan dari perairan utara ke selatan. Proses penggalian jalur tersebut dilakukan oleh para leluhur sebagai bentuk pertahanan dari ancaman musuh kerajaan. Lokasi benteng di bagian timur kini berada di wilayah Desa Kali, yang saat ini menjadi jalur darat, sementara bagian barat dikenal sebagai Kelewonan. Penggalian benteng ini dinamakan Kinali atau BeToundanouw, yang berarti “digali”. Setelah pekerjaan besar ini selesai, Kerajaan Toundanouw merasa bahwa pemukiman telah aman dari gangguan luar. Kawasan pemukiman yang terbentang di tengah Danau Toundanow kemudian disebut Lumebulebu, yang merujuk pada keindahan panoramanya karena berada di tengah danau layaknya sebuah pulau. Seiring berjalannya waktu, para leluhur mengadakan pertemuan adat yang disebut Mahohuta, yaitu sebuah sidang untuk menetapkan rencana besar dalam mengelola wilayah perairan Danau Toundanouw. Di bawah kepemimpinan leluhur Nawo bernama Moharauw, disusun gagasan untuk mengeringkan danau dengan cara membuat kanal atau terusan air. Kanal tersebut direncanakan di bagian timur dan barat danau—yang kini merupakan wilayah Desa Kuyanga di sebelah timur, dan Desa Toundanouw di sebelah barat. Tempat penggalian itu disebut Pinesangan, artinya “digali” atau “diterobos” menggunakan tenaga air. Dalam proses ini, Moharauw didampingi oleh leluhur Lelemboto. Hasil dari pengeringan dan pembuatan terusan tersebut adalah terbentuknya sejumlah danau kecil. Bukti peninggalan itu antara lain Danau Bulilin, dari kata Toundanouw Buliwulilinah Ke Mange I Nahe, yang berarti “sisa air danau yang dikeringkan”. Selain itu terdapat Danau Kawelaan yang menunjukkan proses pengeringan alami, serta Sinduh Hiluah yang dahulu merupakan teluk danau dan kini menjadi kawasan perkebunan masyarakat. Setelah danau mulai mengering, para leluhur yang tinggal di pegunungan Abur sepakat untuk turun ke dataran rendah dan membentuk permukiman baru. Mereka yang bermukim di Pegunungan Pakey turun ke kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Kali. Penghuni Pegunungan Batu dan Dungus berpindah ke wilayah yang kini menjadi Desa Tombatu dan Kuyanga. Mereka yang berasal dari Powo’d, Loloan, dan Liahayu menetap di dataran yang kini menjadi Desa Silian. Sementara itu, masyarakat dari Pegunungan Bitangal turun ke dataran barat mulai dari Totona, Baleynihan, hingga Aolas—daerah yang kini dikenal sebagai Desa Toundanouw. Nama “Toundanouw” sendiri berasal dari kata Belo’bug atau Lumebulebu. Belo’bug berarti suatu lokasi tempat dilaksanakannya upacara ritual budaya Toundanouw agar terhindar dari gangguan, ancaman, wabah penyakit, maupun serangan musuh. Sementara Lumebulebu menggambarkan kawasan yang terpisah secara alami, memiliki panorama indah, dan tampak tiada duanya. Pada tahun 1994 bulan Oktober Desa Toundanouw menjadi desa persiapan setelah melalui berbagai rapat-rapat. Pada saat menjadi desa Persiapan, desa Toundanouw dipimpin oleh bapak Yan Pitani selaku Hukum Tua. Pada tahun 1996 bulan Oktober pula Desa Toundanouw menjadi Desa Definitif. Kemudian, pada tahun 1998 bulan Juli diadakan pemilihan hukum tua dengan kandidat calon hukum tua: 1. Yan Pitani 2. Yan Awidona 3. Aneke Lendombela – Poluan Dari hasil pemilihan hukum tua tersebut, terpilihlah bapak Yan Pitani sebagai hukum tua periode 1998 – 2007. Kemudian pada tahun 2007, diadakan pemilihan hukum tua dengan kandidat calon hukum tua: 1. Yan Pitani 2. Martheen Pelealu 3. Andries E. Tampongangoy 4. Horman R. Pelealu 5. Otto Mamahit Dari hasil pemilihan hukum tua selanjutnya, terpilihlah bapak Martheen Pelealu sebagai hukum tua periode 2007 – 2013, kemudian pada Juli 2013 – Juli 2014 yang menjadi penjabat hukum tua yaitu bapak Rudy Oth Liwan. Selanjutnya, pada tahun 2014 diadakan pemilihan hukum tua dengan kandidat calon bapak Rudy Oth Liwan dan Martheen Pelealu. Dari hasil pemilihan hukum tua, terpilihlah bapak Martheen Pelealu sebagai hukum tua periode 2014 – 2021. Dan akhirnya, pada Juni 2021 yang menjadi penjabat hukum tua yaitu bapak Jonly G. Tampongangoy sampai sekarang. Sebelum adanya pemekaran, dahulu desa ini merupakan desa Ranoketang, Kecamatan Tombatu, Kabupaten Minahasa. Kemudian, dilakukan pemekaran pada tahun 1994 menjadi desa Toundanouw, Kecamatan Touluaan, Kabupaten Minahasa Tenggara. Pada tahun 2002 dilakukan pemekaran kembali dan menghasilkan nama desa yaitu desa Toundanouw Satu, kemudian pada tahun 2010 dilakukan kembali pemekaran yang menghasilkan desa baru yaitu desa Toundanouw Atas. Alasan pemekaran yaitu karena desanya besar sedangkan dana desa yang diberikan oleh pemerintah terbilang kecil untuk ukuran desa dengan penduduk yang banyak. Setelah melakukan pemekaran beberapa kali, terbentuklah 3 (tiga) desa baru, yaitu Desa Toundanouw (Induk), Desa Toundanouw Satu dan Desa Toundanouw Atas. Masyarakat desa ini merupakan suku/etnis Tonsawang dengan bahasa Toundanouw. Pekerjaan masyarakat yaitu bertani, berkebun (cabai,padi,jagung,kacang-kacangan), beternak ayam dan babi (rumahan) dan membuat captikus dengan menggunakan alat penyulingan yaitu bambu. Masyarakat desa Toundanouw 100% beragama Kristen Protestan dengan memiliki 5 (lima) Gereja yaitu Gereja GMIM, KGBI, GPDI, GKI dan ADVENT. Desa ini juga memiliki 4 organisasi yaitu Mapalus (Maandou), arisan membangun rumah, arisan keuangan dan arisan rukun keluarga. Desa ini memiliki 1 sekolah yaitu SD GMIM Ranoketang Atas – Toundanouw, 1 puskesmas inap, sungai (mamaya, melebu dan sungai tanahi), alat musik tradisional yaitu suling. Dahulu masyarakat menggunakan sepeda sebagai alat transportasi untuk berhubungan dan terhubung dengan desa/wilayah lain. Dan sekarang masyarakat menggunakan kendaraan Damri sebagai transportasi ke desa/wilayah lain.

Kepala Desa dari Masa ke Masa

Saat Ini

Jonly Gaspar Tampongangoy

2021 - Sekarang

Penjabat Hukum Tua

Sejarah Desa Toundanouw - Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang